Peran Pelatih dalam Membentuk Karakter
Atlet
Diterima: Mei 2011. Disetujui: Juni
2011. Dipublikasikan: Juli 2011
© Universitas Negeri Semarang 2011
Rubianto Hadi*
Abstrak
Seorang
pelatih harus dapat menentukan dosis atau beban latihan yang sesuai dengan
kebutuhan atlet secara individual. Selain dosis latihan seorang pelatih harus
mampu membina mental atau karakter atlet. Tujuan dari penulisan artikel adalah
untuk mengungkapkan peran pelatih dalam membentuk karakter atlet. Pelatih
sebaiknya memperhatikan beberapa hal untuk dapat
membina mental atau karakter atlet,
antara lain:
1)
menciptakan
komunikasi yang sebaik-baiknya antara pelatih dengan atlet
2)
memahami
watak, sifat-sifat, kebutuhan dan minat
3)
pelatih
harus mampu menjadi motivator
4)
membantu
atlet dalam memecahkan problema-problema yang dihadapi
kata
kunci : pelatih; mental; atlet
Acoach must
be able to determine the dose that or training load in accordance with the
needs of individual athletes. In addition to training dose of a coach should be
able to promote mental or character of athletes. The purpose of writing the
article is to reveal the role of trainers in shaping the character of athletes.
Coaches should consider several things to be able to build mental or character
of athletes, among others:
1)
create
the best possible communication between the coaches with the athletes
2)
understand
the nature, the nature of nature, needs and interests
3)
the
coach should be able to be a motivator
4)
assist
athletes in solving their problems
Keywords :
coach; mental; athletes
PENDAHULUAN
Perkembangan
olahraga dewasa ini sangat pesat sekali, hal ini dapat kita lihat dari makin
banyaknya orang melakukan kegiatan olahraga, baik tua muda maupun anak-anak. Tujuan
orang melakukan kegiatan olahraga bermacam-macam tergantung pada kondisi, situasi,
kebutuhan, dari masing–masing individu, misalnya:
1)
untuk
mencapai prestasi
2)
untuk
menjaga kesehatan
3)
untuk
penyembuhan/rehabilitasi
4)
untuk
rekreasi,
5)
untuk
pendidikan/ pembinaan (Hadi, 2007).
Orang yang
melakukan kegiatan olahraga bertujuan untuk mencapai prestasi, dalam kegiatannya
harus dilakukan secara terprogram dan sistematis serta harus ditangani oleh
orang yang ahli dibidangnya, yaitu orang menguasai ilmu kepelatihan. Ilmu kepelatihan
adalah: ilmu yang mempelajari masalah–masalah latihan olahraga, kondisi fisik,
mental, gizi, perwasitan, pertandingan dan penilaian, dalam rangka mencapai
tujuan olahraga (Hadi, 2007).
Proses
kepelatihan olahraga harus ditangani oleh orang yang ahli dibidangnya, karena untuk
dapat melatih secara benar seorang pelatih harus dapat menentukan dosis atau beban
latihan yang sesuai dengan kebutuhan atlet secara individual. Untuk dapat menentukan
dosis latihan dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang memadai dari pelatih.
Jadi untuk menjadi pelatih harus betul-betul ahli dibidangnya, kalau proses latihan
di tangani oleh orang yang tidak ahli, Dikhawatirkan sisi kehidupan yang lain
dari seorang atlet mengalami kegagalan, misalnya mengalami cidera atau
menderita berbagai macam penyakit. Oleh sebab itu pelatih harus memiliki klasifikasi
tertentu dari cabang olahraga yang ditekuni, misalnya seorang pelatih harus
memiliki standar sertifikasi kemampuan kepelatihan tertentu yang dikeluarkan
oleh lembaga profesional atau instansi tertentu yang mengelola sertifikasi
pelatih. Profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu yang
harus dikuasai. Seorang pelatih dalam menjalankan tugasnya memerlukan keahlian
tertentu yang harus dikuasai, sehingga pekerjaan sebagai pelatih dapat juga
disebut suatu profesi.
Dalam setiap profesi seharusnya
memiliki asosiasi profesi, maka dari itu kalau pelatih merupakan profesi ke
depan harus di bentuk asosiasi pelat ih. Agar seorang pelat ih dapat menjalankan
tugasnya dengan baik dan benar, maka pelatih harus memiliki dasar atau
pegangan dalam menjalankan tugasnya.
PEMBAHASAN
Setiap
orang mempunyai falsafah hidup masing-masing. Falsafah seseorang dapat dilihat
dalam pandangannya tentang lingkungan sekitarnya, tentang hubungan antar
manusia, serta tentang nilai-nilai yang diberikannya untuk itu semua. Karena
itu, segala kegiatan, sikap dan tingkah laku seseorang akan mencerminkan
falsafahnya.
Salah satu
arti dari adalah, bahwa falsafah ialah suatu sistem dari prinsip-prinsip yang
dipakai untuk membimbing orang dalam kegiatan-kegiatannya, “a system of principles
for guidance in practical
affairs”. (Martin
& Lumsden: 1987).
Seorang
pelatih dalam menjalankan profesinya memerlukan falsafah, karena falsafah dapat
sebagai pegangan dalam melakukan tugasnya. Kalau kita bicara mengenai falsafah
pelatih, kita bicara mengenai suatu perangkat sikap atau prinsip-prinsip dasar
yang menuntun tabiat dan perilaku pelatih di dalam situasisituasi praktek.
Falsafah pelatihan adalah “menanamkan kepribadian yang baik dan perilaku etis”
pada atlet-atletnya (Thompson, 1949).
Salah satu
perangkat yang harus di buat oleh suatu asosiasi pelatih adalah kode etik, kode
etik profesi digunakan sebagai acuan norma berperilaku dan berbuat dalam berkarya
melaksanakan profesinya.
Falsafah
seorang pelatih akan tercermin di dalam pendapatnya, tingkah lakunya dalam melaksanakan
tugasnya sebagai pelatih dalam membina atlet-atletnya untuk memperkembang
secara optimal kesehatan fisik, mental, spiritual dan sosialnya. Di samping itu
tugasnya adalah juga untuk mengembangkan keterampilan motorik dan prestasi
atlet, perilaku etis, moral yang baik, kepribadian dan respek terhadap orang
lain. Falsafah seorang pelatih harus pula tercermin di dalam watak luhurnya, pertimbangan-pertimbangan
intelektualnya, sportifitasnya dan sifat-sifat demokratisnya.
Pelatih harus pula dapat memberikan bimbingan,
agar atlet-atletnya bisa berdikari dalam hidupnya kelak dan menjadi warga negara yang baik. Itu semua adalah (dan
seharusnyalah) merupakan tanggung jawab seorang pemimpin olahraga dan
dengan sendirinya juga yang diharapkan
dari seorang pelatih.
Berdasarkan
uraian diatas bahwa dengan falsafah, menanamkan kepribadian yang baik dan
perilaku etis. Seorang pelatih akanmampu untuk membina dan membentuk karakter
dan mental. Karakter dan mental atlet yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1)
Sportif,
tekun dan disiplin
2)
Memiliki
stabilisasi emosi dalam situasi apapun
3)
Percaya
diri
4)
Hidup sehat, moralis dan serasi
5)
Mampu
mengembangkan fungsi otot dan faal
6)
Selalu
mengembangkan diri
Pelatih
adalah merupakan suatu sebutan yang memancarkan rasa hormat, respek, status.
tanggung jawab. Sebutan pelatih seringkali bisa berlanjut meskipun tugas
sebagai pelatih sudah usai. Sekali kita pelatih, selamanya kita adalah pelatih
bagi atlet kita, bagi masyarakat.
Atlet menganggap bahwa seorang pelatih adalah
ahli dalam segala hal dan pandai memainkan berbagai peran. Dan banyak atlet
yang ingin seperti pelatihnya kalau dia kelak menjadi pelatih. Meskipun ada
juga yang tidak dan bersumpah tidak akan berbuat seperti pelatihnya dulu. Akan
tetapi apa yang diperolehnya dari pelatih akan senantiasa membekas pada atlet.
Setiap pelatih
harus selalu sadar dan memahami sasaran yang ingin dicapai dan tujuan akhir
suatu latihan untuk meningkatkan prestasi dan sedapat mungkin mendapatkan
kemenangan dalam pertandingan. Ini penting, namun para pelatih hendaknya
menyadari pula bahwa yang lebih penting lagi adalah peningkatan prestasi atlet
serta perkembangan pr ibadi atlet .
Kemenangan dalam suatu pertandingan bukanlah
akhir perjalanan seorang atlet karena
setiap kemenangan atau kekalahan merupakan
awal dari suatu perjalanan untuk menghadapi kemenangan atau kekalahan
berikutnya (Jones, 1988).
Untuk dapat melakukan tugas dan peran dengan
baik pelatih harus memperhatikan halhal
sebagai berikut :
1)
Menciptakan
komunikasi yang sebaik-baiknya antara pelatih dengan atlet,
2)
Bagaimanapun
hebatnya seorang pelatih tidak akan dapat membina atlet dengan baik apabila
tidak ada kesediaan psikologik dari atlet untuk mendengarkan dan menerima
petunjukpetunjuk dari pelatihnya. Interaksi edukatif perlu diciptakan oleh
pelatih, yaitu interaksi antara pelatih dan atlet dan antara sesama atlet yang
didasarkan atas nilai-nilai pendidikan, yaitu antara lain rasa keakraban,
keterbukaan, penuh kasih sayang, kesediaan untuk ikoreksi, menerima saran saran
dan sebagainya, yang semua itu didasarkan atas sikap sikap positif-konstruktif.
3)
Memahami
watak, sifat-sifat, kebutuhan dan minat. Atlet sebagaimana dikatakan Dewey
(1964) keberhasilan pendidikan juga akan ditentukan oleh seberapa jauh kita
memperhatikan minat (interest ), kebutuhan (needs ) dan kemampuan (ability ) yang harus dikembangkan dari subyek didik.
4)
Pelatih
harus mampu menjadi motivator. Pelatih harus mampu menjadi motivator yang baik,
dengan kemampuan pelatih membangkitkan motivasi atlet akan meningkatkan
kepercayaan diri atlet, adanya kepercayaan diri ini memungkinkan atlet meraih
prestasi optimal. 5) Membantu atlet dalam memecahkan problema-problema yang dihadapi,
pelatih harus mampu membantu memecahkan problema yang dihadapi atlet baik
problema dalam latihan dan pertandingan, maupun problema dalam keluarga, sekolah
ataupun pekerjaan.
Atlet adalah
orang yang selalu, dihadapkan kepada permasalahan, baik permasalahan mengejar
prestasi, menghadapi tekanan- tekanan dari lawan maupun penonton, kemungkinan
mengaIami kegagalan dan sebagainya. Sebagaimana dikemukakan.
Sehubungan itu
maka selalu harus dipikirkan bagaimana menyiapkan atlet agar matang menghadapi
pertandinganpertandingan.Belajar mengatasi stress melupakan hal yang sangat
penting agar dapat memiliki kematangan sebagai juara. Permasalahan-permasalahan
yang bersifat teknis maupun pribadi selalu dihadapi atlet dan untuk itu pelatih
harus selalu peka, selalu
memperhatikan keadaan dan perkembangan
individu atlet yang dibina.
Menurut Bernard
Weiner (1974) ability atau kemampuan merupakan faktor internal yang
stabil, effort
atau usaha merupakan factor internal yang
tidak stabil,
task difficult atau
kesulitan tugas merupakan faktor eksternal yang stabil, sedangkan luck atau
keberuntungan merupakan faktor eksternal yang tidak stabil, oleh karena itu
untuk dapat membina dengan baik pelatih harus mampu membina atlet agar atlet
mampu mengendalikan faktor-faktor yang tidak stabil menjadi stabil.
Pelatih merupakan
manusia model yang menjadi contoh dan panutan bagi anak didiknya terutama
atlet-atlet yunior atau pemula, sehingga segala sesuatu yang
dilakukan selalu menjadi sorotan atlet dan
masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu seorang pelatih dituntut untuk dapat
bersikap dan berperilaku yang baik sesuai dengan norma-norma yang ada di
masyarakat. Sikap dan perilaku ideal yang harus ditampilkan / amalkan seorang
pelatih antara lain:
1)
Perilaku
2)
Kepemimpinan
3)
sikap
sportif
4)
keseimbangan
emosional
5)
ketegasan
dan kepribadian
6)
humor
7)
kegembiraan
berlatih
8)
hargai wasit
9)
hargai
tim tamu
10)
perhatian
pribadi
11)
berpikir
positif
12)
larang
judi
13)
mengisyukan
orang
14)
menggunakanwewenang
Perilaku dan
tabiat seorang pelatih harus bebas dari cela dan cerca. Dia harus selalu ingat
bahwa anak didiknya maupun masyarakat menganggap dia sebagai manusia yang
sempurna dan dijadikan model Hampir setiap gerak pelatih akan selalu diamati
oleh anak didiknya maupun masyarakat. Terutama atlet-atlet muda sering kali mengidentifikasikan
dirinya dengan perilaku dan tabiat pelatihnya. Sikapnya, gayanya dan cara
berbicaranya sering kali merupakan duplikat dari pelatihnya, oleh karena itu penampilan
yang baik harus selalu tercemin pada seorang pelatih.
Pelatih harus
merupakan seorang individu yang dinamis, yang dapat memimpin dan memberikan
motivasi pada anak asuhnya maupun kepada as i s ten-as i s tennya/ pembantunya.
Dia juga diharapkan dapat bergaul dengan orang banyak, menyelami isi hati
mereka, dapat mengeluarkan pendapat dan pandangannya secara jujur dan terbuka
c.
Seorang pelatih
harus mencerminkan contoh dari sportifitas yang baik, pelatih harus mengajarkan
dan mengingatkan sikap sportif pada atletnya. Sikap sportif atlet dapat kita
lihat baik melalui pergaulan sehari-hari maupun pada waktu melakukan latihan
dan pertandingan. Jangan sampai dalam meraih kemenangan menggunakan cara-cara
yang 90 Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia (2011) 1: 88-93 tidak sportif.
Kemenangan bukanlah tujuan mutlak dalam olahraga tetapi masih ada tujuan lain
yang lebih terhormat yaitu dalam rangka membentuk mental dan karakter serta
kepribadian yang sempurna bagi atlet.
Kemenangan dan
kekalahan dalam olahraga adalah hal biasa oleh sebab itu. Seorang pelatih/atlet
dapat menerimanya dengan rasa syukur bahwa semua yang terjadi memang sudah
kehendak Tuhan, sehingga pada waktu memperoleh kemenangan tidak perlu
menyombongkan diri dan pada waktu menderita kekalahan dapat menerima dengan
ikhlas dan lapang dada tidak menyalahkan pada orang lain.
Seorang pelatih harus sanggup bersikap wajar,
lugas dan layak dalam menghadapi keadaan yang segawat apapun dan harus
mampuberfikirdengan tenang dan rasional. Seorang pelatih harus selalu mampu
mengendalikan emosi dan tetap berkepala dingin serta mampu mengendalikan
atletnya untuk tetap tenang, walaupun menghadapi pertandingan yang berat dalam
situasi stress dan suasana tegang . Seorang pelatih harus berani bersikap tegas
dan berani dalam mengambil keputusan, sehingga dia tidak akan terganggu oleh
sikap atlet yang kurang simpati walaupun mungkin mengorbankan prestasi jangka
pendek tetapi kekompakan dan prestasi jangka panjang dapat terjaga.
Perlu diketahui
bahwa yang paling utama dalam pembinaan adalah prosesnya kalau prosesnya sudah
benar pasti dengan
sendirinya prestasi akan muncul. Yang terjadi
sekarang orang selalu berorientasi pada prestasi kurang memperhatikan proses
pembinaan sehingga bukannya prestasi yang didapat tetapi kegagalan. Suatu sifat
yang tampaknya remeh akan tetapi yang sering pula ikut menentukan sukses
tidaknya seorang pelatih adalah - nya atau citarasanya akan humor. Banyak atlet
yang berpendapat bahwa humor adalah sifat yang terpenting dimiliki seoang pelatih.
Kemampuan untuk
membuat orang lain merasa relax dengan jalan memberikan humor atau lelucon yang
sehat dan menyegarkan merupakan faktor penting guna mengurangi ketegangan dan
membangkitkan optimism baru, baik dalam latihan maupun sebelum dan sesudah pertandingan.
Akan tetapi
sebaliknya, penyajian humor sense yang tidak padanya dan tanpa mengingat waktu
dan situasi yang tepat akan pula dapat merusak suasana. Humor pada saat-saat
sedang serius bukanlah humor yang lucu lagi apabila saat itu kebetulan sedang
dibutuhkan suasana serius tersebut.
Penyajian humor
harus pula mengenal batas. Atlet-atlet muda sering kali mempunyai kecenderungan
untuk melebih-lebihkan atau melan tur- lanturkan lelucon sehingga ungkapan
ungkapan itu akhirnya tidak lucu lagi. Dan malah kemudian dapat berubah menjadi
cemooh atau ejekan sehingga menyinggung perasaan orang lain.
Pelatih harus
dapat mengajarkan kegembiraan bermain dan berlatih. Kalau latihan atau
pertandingan hanya dianggap sebagai suatu siksaan oleh atlet (oleh karena pelat
ih memang menciptakan si tuasi demikian), maka kegembiraan berlatih dan
kegembiraan bertanding (the
joy of training and competing) akan hilang. Usahakan agar kegembiraan selalu ada. Selipkan di
dalam latihan-latihan, akan tetapi dengan tetap tidak melupakan disiplin
(Setyobroto, 1993).
Pelatih harus
dapat menghargai(dan ramah terhadap) keputusan-keputusan wasit dan ofisial
pertandingan lainnya. Kalau tidak setuju dengan keputusan-keputusannya, salurkanlah
melalui saluran-saluran dan dengan cara-cara yang resmi.
Pelatih harus
memperlakukan tim tamu sebagai tamu yang harus dihormati, bukan justru sebagai
saingan yang mencoba ingin mengalahkan timnya. Tamu harus dihargai sebagi teman
bermain dan bertanding yang sama-sama ingin menyuguhkan permainan yang seru,
akan tetapi sportif dan bermutu, dan untuk menguji siapa yang terbaik di antara
kedua tim tersebut melalui perjuangan yang gigihnamunfair.
Setiap
atlet harus merasa bahwa dia mendapat perhatian, pribadi dari pelatih. Atlet
ingin agar dia diakui (recognized) sebagai orang dan bukan sebagai sesuatu
yang hanya dipergunakan untuk pertandingan, sebab kalau demikian maka akan ada
keengganan (resentment ) pada atlet untuk berlatih. Pelatih harus
bisa mencintai olahraga yang ditanganinya. Kalau tidak, maka tidak akan ada
kegembiraan (entusiasme ) dalam tugasnya. Atlet akan menjadi korban
dan pelatih akan merasa membuang waktu saja di lapangan. Atlet akan segera
mengetahui kalau the
joy of training and competing recognized resentment Entusiasme entusiasme tidak ada, meskipun hanya untuk sementara saja. Dalam
situasi kalah atau sial
sekalipun, pelatih harus tetap memperlihatkan perhatiannya dan entusiasme-nya kepada atlet.
Pelatih yang
sukses biasanya adalah pelatih yang sangat memperhatikan atletatletnya dan
mempunyai ambisi untuk menang. Banyak pelatih telah gagal dalam tugasnya oleh
karena terlalu berambisi untuk menang akan tetapi tidak memperhatikan kebutuhan
dan perkembangan atletnya. Pelatih yang memanfaatkan kekuasaannya hanya untuk
kebutuhan pribadinya saja tidak akan bertahan lama dalam karier coachingnya.
Sukses akan diperoleh kalau perhatian banyak ditujukan kepada
kebutuhan-kebutuhan atlet.
Biasanya kalau
kita merasakan stress, tegang atau takut, kita hanya berpikir akan
kelemahan-kelemahan kita, seperti kurang persiapan, kondisi f isik kurang dan
sebagainya. Dan susahnya, kalau kita pusatkan perhatian kita pada
kelemahankelemahan kita, jadi berpikir negatif, biasanya kita juga akan menjadi
lemah. Kalau seorang pelari 5000m pada keliling ke-8 mengatakan kepada dirinya
atau memanjakan dirinya dengan. berkata “saya capek, saya sudah tidak kuat
lagi, saya harus berhenti”, maka memang dia kemudian akan capek, lemah dan
tidak kuat lagi. Perbedaan antara apa yang kita pikir dan apa yang kita lakukan
biasanya kecil sekali.
Artinya kalau kata hati (inner speaking ) kita negatif, usaha serta perjuangan kita
pun akan kurang baik. Sebaliknya kalau kita berubah, biasanya behaviour (perilaku ) kita pun akan berubah.
Kalau pelari
5000m tadi - nya menjadi positif, optimistik, seperti misalnya “saya tidak mau
menyerah, saya masih kuat, saya harus selesaikan perlombaan ini”, maka dia akan
heran bahwa dia akan menjadi lebih kuat oleh karena merasa lebih kuat. Pelatih
harus melatih atlet-atletnya agar mereka selalu berpikir positif &
optimistik. Yang penting dalam pertandingan adalah pusatkan perhatian kita pada
kekuatankekuatan kita, bukan pada kelemahankelemahan
kita (concentrate on what we have, not on what we have not). Kalau kita fokuskan perhatian kita pada kelemahan-kelemahan kita, maka kita biasanya akan menjadi
bimbang, ragu dan tidak bisa mengembangkan percaya diri kita. Pelatih harus
berani untuk melarang judi kepada atlet-atletnya dan harus pula berani memberi
hukuman yang berat kepada setiap atletnya, yang main judi, yang mau disogok dan
mau dibeli (misalnya disuruh kalah demi uang).
Bicara di depan
umum dengan menggunakan bahasa yang baik, benar dan sederhana, yang
memperlihatkan rangkaian dan hubungan yang jelas antara kalimatkalimat sehingga
mudah diikuti arah tujuan masalah yang dlikemukakan, pengucapan kata-kata
dengan jelas dan lancar, ini semua perlu dilatih dan dikuasai oleh seorang
pelatih guna menaikkan -nya di mata para
pendengarnya.
Pelatih sebaiknya
jangan mengritik, mengisyukan, menceriterakan kekurangankekurangan atlet,
pelatih lain atau ofisial lain kepada orang lain. Kalau sekiranya perlu untuk
memberikan contoh. Mengenali kekurangan-kekurangan yang demikian, sebutkan
secara umum dan jangan menyebut nama seseorang tertentu. Pelatih harus dapat
merahasiakan informasi-informasi yang kurang baik sekiranya secara etis
informasiinformasi demikian diperkirakan perlu dirahasiakan.
Pelatih janganlah
menggunakan wewenangnya atau kedudukannya sebagai pelatih untuk kepentingan atau
keuntungankeuntungan pribadinya. Dia juga tidak menerima sesuatu pemberian atau
hadiah yang sekiranya dapat atau diperkirakan dapat menyebabkan dia menyimpang
dari ketentuan-ketentuan yang berlaku dan melanggar kode etik profesinya.
Termasuk di sini memberikan perhatian kepada seorang atlet secara khusus, oleh
karena untuk itu ia menerima sesuatu pemberian.
Dengan pemahaman
tuntunan sikap dan perilaku pelatih seperti tersebut di atas seorang pelatih
tidak akan mengalami kesulitan dalam membina mental dan karakter atlet, di
samping itu sikap dan perilaku ideal pelatih merupakan contoh yang positif dari
pelatih kepada atletnya.
SIMPULAN
Seorang pelatih
dalam menjalankan profesinya memerlukan falsafah, agar mampu membina dan
membentuk karakter danmental atlet. Karakter dan mental atlet yang
diharapkan:
1)
Sportif,
tekun dan disiplin
2)
Memiliki
stabilisasi emosi dalam situasi apapun
3)
Percaya
diri
4)
Hidup
sehat, moralis dan seras
5)
Mampu
mengembangkan fungsi otot dan faal
6)
Selalu
mengembangkan diri.
Pelatih merupakan
manusia model yang menjadi contoh dan panutan bagi anak didiknya terutama
atlet-atlet yunior atau pemula, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu
menjadi sorotan atlet dan masyarakat pada umumnya. Adanya contoh positif dari
pelatih akan membantu atlet dalam pembentukan karakter dan mental.
DAFTARPUSTAKA
Hadi, R. 2007. Ilmu Kepelatihan Dasar. Semarang: Rumah Indonesia
Harsono. 1988. Jakarta: Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga KependidikanDEPDIKBUD
Harsono. Tanpa Tahun. Prinsip dan Metodologi
Kepelatihan
Jones, B.J. . 1988. Second Edition. Toronto:
Allyn and Bacon, Inc
Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.
1999. Jakarta: Kantor Menteri NegaraPemudadan
Olahraga
Moelijono, W. & Suherman, S. 1996.
Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan
Mutu Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SD
Setara D-II.
Rambing, S. Tanpa Tahun.Semarang: Komtek
Pertina Jateng
Setyobroto, S. 1993. . Jakarta: CV. Jaya
Sakti
Thompson, J. 1949.California: Warde Publisher
tulisan dftr rwyt hdupnya gk kelihatan fit :)
BalasHapuskritik: sudah lumayan, tinggal di tambah animasi aja okey :D
BalasHapusoalah tulisannya ketutupan gambarnya :D
BalasHapustapi bagus tentang olahraga